kenegarawanan : spirit bung karno dan 66 tahun indonesia merdeka


Spirit Bung Karno dan 66 Tahun Indonesia Merdeka

Pelajaran Pancasila Dihapus? Ini Jawaban Anggota DPR

66 Tahun Indonesia Merdeka
Di bulan Ramadhan 1432 H yang bertepatan dengan 66 tahun Indonesia Merdeka 17-8-2011, sesungguhnya bangsa Indonesia saatnya kini bersyukur sekaligus mawas diri diberkati oleh Yang Maha Kuasa angka kembar 6 (enam) sejak ketika kolonialis Belanda untuk pertama kalinya menyerbu kepulauan Nusantara pada tahun 1596, mengingat pula Al Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pada tanggal 17 Ramadhan tahun 41 Fiel atau tanggal 6-8-610.
Proklamator Indonesia Merdeka, Sukarno terlahir tanggal 6-6-1901,  bersekolah 6 tahun di Technische Hogeschool (sekarang ITB) dan meraih gelar Insinyur 25-5-1926, mendirikan Algemene Studie Club 1926 dan Partai Nasional Indonesia 4-6-1927, menikahi Fatmawati bulan 6 tahun 1943, berpidato tentang Pancasila sebagai Dasar Negara pada tanggal 1-6-1945, meyakini peluang Proklamasi Indonesia Merdeka setelah Hiroshima dan Nagasaki dihancurkan sekutu pada 6-8-1945, dibawa ke Rengasdengklok oleh pemuda2 pendesak Proklamasi pada tanggal 16-8-1945, memberikan Surat Perintah 11 Maret 1966, dan wafat 21-6-1970.
Pidato Kebangsaan 1-6-2011 yang lalu menandai kebangkitan spirit Proklamator Bung Karno, seperti diungkapkan Jiwa Semangat Nilai2 45, di banyak kalangan peduli kejayaan NKRI dan kini angka 66 sebenarnya adalah saatnya dapat dimaknai menjadi jangkar pemulihan kesehatan NKRI dari keterpurukan martabat bangsa, kemiskinan rakyat kecil, ketertindasan daulat rakyat atas sumber2 daya kehidupan Negara dan hajat hidup orang banyak.
Sekali lagi, Marhaban Yaa Ramadhan 1432H, Dirgahayu 66 Tahun Indonesia Merdeka 17-8-2011.
Jakarta, 14 Agustus 2011
Pandji R Hadinoto / HP : 08179834545
Dewan Pakar, PKPI Benteng Pancasila / eMail : pakar45@yahoo.com

wednesday, august 03, 2011

Menyambut 66 tahun Kemerdekaan bangsa Indonesia

Selesai membacakan Proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945 pagi hari, Bung Karno maju kedepan beberapa langkah lalu berteriak “Merdeka…Merdeka” Para hadirinpun berteriak “Merdekaaa”. Ya hari itu pada 66 tahun yang lalu Bangsa Indonesia bukan bermimpi tapi benar-benar mengalami peristiwa kemerdekaannya. Bangsa Indonesia dari Barat sampai ke Timur lepas dari penjajahan. Kita sangat pantas menghargai kemerdekaan itu saat itu dan hari-hari kemudian…sampai sekarang. Saat ini Bangsa Indonesia sedang bermuram durja, karena soal Nazaruddin, politik dalam negeri tidak jelas, banyak orang bicara sembarangan, sementara di Papua terjadi gejolak. Bagaimana daerah lain ? Kita kok jadi pesimis kalau terjadi perpecahan Bangsa ? Tidakkah ada jalan terbaik untuk mempertahankan Kemerdekaan Bangsa Indonesia ini….maksudnya masih dalam batas wilayah Sabang sampai Merauke ? Sebuah pertanyaan yang berat bagi mereka yang tidak mengalami semangat zaman awal Kemerdekaan itu sendiri. Sambutlah hari Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 2011 dengan optimisme. Pilihlah pemimpinmu yang berwibawa dan bertanggung jawab….
posted by Rushdy Hoesein at 8:35 AM

Bung Karno

www.bungkarno.net/ – Tembolok
email : info@ blitaraya.com.

Gambar untuk bung karno


Bung Karno, Pancasila dan Jiwa Bangsa
18/06/2011 08:12:26 Saat ini bangsa Indonesia mulai jauh dari cita-cita proklamasi. Karena sudah mulai kehilangan dasar ideologi bangsa. Padahal untuk menjadi bangsa yang besar, harus mempunyai ideologi (KR, 5/6/2011). Pernyataan Ketua DPD PDIP DIY, Drs HM Idham Samawi ini, sejatinya menjadi cermin bagi kita selaku anak bangsa. Benarkah bangsa ini kian jauh dari cita-cita proklamasi yang telah diikrarkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta, pada 66 tahun silam itu?
Dalam pidatonya tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mencetuskan gagasannya tentang Pancasila. Pancasila merupakan cita-cita luhur bangsa Indonesia tentang masyarakat yang baik dan diidealkan. Namun, saat ini nilai-nilai Pancasila terpinggirkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Akibatnya, kedaulatan bangsa ini tidak pernah terwujud seperti yang dicita-citakan oleh Bung Karno dan para pendiri bangsa kita dulu.
Persoalan Bangsa
Berbagai persoalan bangsa kian hari kian menghujani nilai dan visi kebangsaan Indonesia sejak kekuasaan Orde Baru (Orba) tumbang. Mulai dari ancaman disintegrasi, korupsi, penggusuran rakyat kecil, kemiskinan, hingga kekerasan dan konflik berjubah agama di beberapa daerah. Belum lagi jika persoalan politik yang makin pragmatis ikut diperhitungkan. Pendek kata, bangsa ini tengah dicoba berbagai deraan masalah demi masalah.
Harus kita akui, selama 66 tahun merdeka, ternyata pembangunan Indonesia hanya menuju proses pelapukan. Pembangunan yang sejatinya memperbaiki nasib rakyat, justru berujung pada keterpurukan dan pelapukan di sejumlah bidang sosial kehidupan.
Kesemuanya, berimplikasi pada tidak terwujudnya kedaulatan bangsa dan negara ini. Padahal, Bung Karno pernah menyatakan bahwa negara Indonesia yang kita cita-citakan harus merdeka dari kebodohan dan ketertinggalan dari bangsa lain, serta mampu berdaulat di segala bidang kehidupan dan menjamin kesejahteraan sosial bagi rakyatnya.
Agar Indonesia berdaulat, saatnya kini kita revitalisasi secara kolektif nilai-nilai luhur Pancasila. Seperti disampaikan Ketua Mahkamah Konstitusi, Prof Dr Mahfud MD, Pancasila harus memuat berbagai kewajiban yang utamanya ditujukan kepada penyelenggara negara, dalam hal ini, pihak eksekutif, legislatif dan yudikatif. Ketiga komponen itu, sejatinya harus mampu menjadikan Pancasila sebagai spirit dalam bekerja dan berperilaku sehari-hari.
Pancasila Jiwa Bangsa
Dengan demikian, Pancasila bukan saja dialamatkan kepada masyarakat atau rakyat kecil, tetapi juga, yang terutama ditujukan kepada penyelenggara negara, baik di level pusat maupun daerah.
Untuk itulah, jika semua pihak serius ingin mempraktikkan Pancasila, maka harus dibuat mekanismenya agar kebijakan publik yang disusun memiliki perspektif Pancasila, selain juga bertujuan yang utama ialah pada kesejahteraan rakyat Indonesia secara keseluruhan.
Selama ini,  kita baru memiliki MK yang bertugas mencocokkan peraturan yang ada dengan UUD 1945. Untuk itu, guna memperkuat posisi Pancasila sebagai dasar negara, kita memerlukan lembaga yang berfokus pada sosialisasi dan penguatan nilai-nilai Pancasila secara formal lewat Pendidikan Pancasila, serta konstitusi. Selain itu, dengan pendekatan kultural nilai-nilai Pancasila dapat ditanamkan di lingkup keluarga dan sekolah/madrasah.
Sebagai falsafah negara, ironis jika Pancasila dipandang sebagai slogan  belaka. Di sisi lain, ironis pula jika substansi Pancasila dipahami secara keliru dan sempit. Karena itu, kita mengajak kepada semua komponen bangsa agar merefleksi diri: mengapa selama 66 tahun merdeka tidak membawa kebesaran bagi bangsa ini? Mengapa pula Pancasila yang merupakan jiwa bangsa tidak menggelorakan kehidupan bangsa ini menjadi lebih jujur dan maju?.
Akhirnya, mau tidak mau, Pancasila harus dipertahankan sebagai ideologi negara dan pilar kehidupan berbangsa dan bernegara. Pidato Bung Karno 1 Juni 1945, 66 tahun yang silam, sejatinya mengingatkan kita bagaimana dasar negara kita dibentuk.  Dari situ, kita harapkan agar jiwa bangsa ini dapat bergelora kembali guna membangun Indonesia yang jujur, cerdas, adil, bermartabat, serta berkeadilan secara sosial. Mari kita wujudkan cita-cita Bung Karno itu! q – g. (3025-2011).
*) Sudaryanto SPd, Mahasiswa
Program Pascasarjana (S2)
Universitas Negeri Yogyakarta.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar di bawah sini . Bentuk Promosi akan di SPAM Terima Kasih